Budaya Menertawakan Diri Sendiri?

Ditulis oleh halexblue pada 10 May, 2008 – 5:38 am -

Terkadang gue suka sedih ngeliat sifat bangsa kita. Kok kayaknya enak banget gitu menertawakan diri sendiri atau mengejek orang lain. Kalo gue bilang mah pathetic. Menyedihkan. Tulisan ini gue buat abis nonton Republik Mimpi di TV One kemarin malam. Ko miris gitu yah, hati gue ngeliat bagaimana para mahasiswa (makhluk-makhluk intelektual yang mestinya punya cara yang lebih elegan dalam mengungkapkan pendapat mereka) dari berbagai universitas ternama Indonesia berhimpun di satu studio untuk siap-siap menertawakan para pemimpin bangsa dan negara sendiri… Sedih.

Gue inget, dulu gue pernah diskusi bareng bokap mengenai Pa Habibie. Waktu itu kita diskusi mengenai keadaan politik dan sosial masyarakat Indonesia pada era Habibie. Di tengah pembicaraan, ada satu perkataan bokap gue yang masih gue inget sampe sekarang,

Bangsa Indonesia itu punya budaya gak bisa liat perbedaan. Kalau mereka melihat ada orang yang melakukan perbuatan yang nyeleneh atau berbeda dari yang lain, pasti diledek dan ditekan agar kembali menjadi sama dengan masyarakat umum. Tapi, kalau perbuatan yang berbeda itu akhirnya membuahkan hasil, orang-orang akan berkata, “Kalau caranya seperti itu sih saya juga bisa… “

Indonesia hanya butuh beberapa orang ‘aneh’ seperti Pa Habibie agar bisa maju. Lihat perekonomian Amerika Serikat. Andaikata orang-orang ‘aneh’ seperti Bill Gates dan Larry Page & Sergey Brin gak ada, apakah perekonomian mereka akan sekuat sekarang? Sayangnya, di sini orang-orang ‘aneh’ dipandang sinis sementara di sana, orang-orang ‘aneh’ dipelihara dan dipuji karena berani tampil ‘beda’.

Sebenernya, kalau kita mau jujur, kita pasti pernah — walaupun hanya sekali atau dua kali — menertawakan nasib bangsa. Coba deh diinget-inget. Gue inget waktu itu guru gue pernah bilang di kelas, “Kalau orang luar negeri mah, mengolah makanan udah pake food processor, atau mixer. Kita di sini masih pake alu, lumpang, dan cobek.”
Seisi kelas langsung tertawa, padahal menurut gue gak ada yang lucu. Apa salahnya pake cobek, alu, dan lumpang? Gue inget waktu itu bokap pernah mengeluh ke nyokap sambalnya rasa daun. Ternyata nyokap waktu itu lagi malas ngulek, jadi sama nyokap cabenya dimasukkan ke blender. Kebudayaan kita berbeda dengan kebudayaan mereka. Dan kebudayaan itu gak ada yang bener, gak ada yang baik. Kenapa sih kita sulit banget menjadi diri sendiri? Bangga dong pake cobek, lumpang dan alu. Bangga dong punya pemimpin yang mengurusi rakyatnya.

Tugas pemerintah adalah memilih pilihan terbaik dari semua pilihan terburuk. Harus kita sadari betul bahwa pemimpin bukan bahan olok-olok.

Seperti sekarang, misalnya. Saat pemerintah dengan berat hati menaikkan harga BBM dan menginstruksikan rakyat agar hemat energi. Bukannya berpikir, “Oh iya ya, harga minyak dunia sedang meroket. Saya harus memahami pemerintah dengan menggiatkan hemat energi.”, kita malah menyalah-nyalahkan pemerintah dan berencana memboikot program penghematan energi. Bukankah Rasul sendiri yang berkata, “Patuhilah imammu.”?

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Sofjan Djalil, mengeluarkan pernyataan yang gue dukung sepenuhnya:

Sudah selayaknya lembaga kepresidenan harus dihargai karena hal tersebut bagian dari institusi kenegaraan. “Lurah saja harus dijaga kewibawaannya agar dia bisa mengajak warga desa bergotong royong. Pendeta harus dilindungi kewenangannya agar dia bisa menjadi teladan dan pemimpin umat yang baik, demikian juga dengan alim ulama harus dihormati agar dapat menjadi pemimpin yang didengar oleh umatnya,” ujar Sofjan.

Jika di Eropa seorang raja dan ratu begitu dihargai dan dihormati, kenapa kita di negeri Timur yang kental dengan tradisi dan budaya hormat-menghormati, tidak melakukan hal tersebut.

Kepemimpinan harus dihormati dan didukung oleh rakyatnya. “Demokrasi di Amerika sangat berbeda dengan di Inggris. Demokrasi di Inggris sangat berbeda dengan di Jepang dan demokrasi di Jepang sangat berbeda dengan di Malaysia atau Indonesia. Apa yang baik di Amerika dan Inggris, belum tentu baik juga buat masyarakat Indonesia. Jika seorang kepala sekolah dipermalukan di depan siswa-siswanya, bagaimana jadinya sekolah itu,” ujarnya.

Pemerintah butuh bantuan kita. Sokong dong kebijakan-kebijakannya. Jangan bisanya hanya mengkritik kebijakan pemerintah dan mau enaknya sendiri. Beberapa orang malah membandingkan dengan harga BBM zaman Soeharto. Jangan begitu dong. Waktu itu kita terlalu dimanja. Merasa negara kaya, kita murahkan BBM. Kalau dari dulu BBM sudah wajar harganya, tentu rakyat akan mencari bahan bakar alternatif. Liat Brazil yang dari 1975 sudah mengalakkan program konversi BBM ke etanol dari tebu. Sekarang, 20% kebutuhan energi Brazil dipenuhi oleh etanol.

Berhenti menertawakan pemimpin, berhenti menertawakan diri sendiri. Kita punya kelebihan sendiri yang berbeda dengan bangsa lain. Jangan seenaknya membuat perbandingan. Oke? Program Republik Mimpi sebenarnya bagus untuk pembelajaran demokrasi, tapi kadang-kadang menurut gue sudah menjurus ke arah sarkasme.

Mau berlangganan RSS feed gue?

Malaysia: Negara Kerdil Bermental Maling

Ditulis oleh halexblue pada 2 May, 2008 – 7:20 am -

Kayaknya mustahil masih ada orang yang ga tau perilaku kurangajar dan tidak bermoral Malaysia yang mengaku kebudayaan negara ini sebagai kebudayaan asli mereka. Wah. Luar biasa.

Setau gue sih kebudayaan tuh gak bisa dihakpatenkan, jadi kayaknya berita-berita bahwa Malaysia udah matenin angklung, batik, dll dll tuh aga lebay ya. Kebudayaan tuh termasuk ke dalam public domain, gak bisa diaku hak milik. Loh? Jadi Malaysia gak salah dong pake lagu “Rasa Sayange” sebagai lagu tema promosi kebudayaan dan pariwisata mereka? Emang ga salah. Tapi sangat tidak etis. Gue terkejut. Sungguh sangat terkejut. Saudara serumpun kita bersikap kayak gitu. Parah ah.

Yang bakal gue kemukakan di sini emang agak kejam; tapi… gue mesti menyatakannya. Malaysia menurut gue adalah negara kerdil bermental maling. Sebuah negara yang minder dengan kebudayaannya sendiri sehingga mencuri kebudayaan negara tetangganya yang kebetulan memiliki kebudayaan yang mirip, Indonesia. Beruntung, Indonesia masih terlalu miskin dan sibuk dengan urusan mendasar negaranya sehingga tidak sempat mengurusi hal-hal “remeh” seperti masalah Hak Cipta.

Kasihanilah Malaysia, dia hanyalah negara kerdil yang sedang berkembang dan sedang mencari identitas diri. Yang jelas, mulai sekarang gue menyuarakan, “Boikot produk-produk Malaysia sebagai perwujudan protes kita atas kesemena-menaannya!”

Mau berlangganan RSS feed gue?