
Kemarin, gue dan teman-teman sekelas nonton Sumpah Pocong di Sekolah. Minggu depan gue udah di Yogya, jadi kapan lagi bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman kayak gitu? Pertanyaannya sekarang, kenapa mesti Sumpah Pocong di Sekolah, kenapa gak film lain yang judulnya lebih bermutu dan ‘mengundang’? Karena pilihan film lainnya adalah Shutter (udah pernah nonton), Pulau Hantu 2 (judulnya lebih engga banget), dan Mengaku Rasul: Sesat (lagi gak pengen nonton film gituan… mirip ayat-ayat cinta lagi posternya)
Sebelum nonton, belanja dulu di Foodmart. Dengan kejamnya, seluruh belanjaan (yang mencakup semua jenis makanan dan minuman ringan) didesak-desakkan ke dalam kantong kanvas gue yang nyaris gak muat menampungnya. Hehehe,, kasirnya sampe bengong, melihat belanjaannya diperlakukan dengan tidak berkepribelanjaan… ck ck ck,, demi penghematan kantung plastik lah… hwhwhw
Klik ’show’ untuk membaca spoiler film Sumpah Pocong di Sekolah.
Show ▼
Oke, masuk ke cerita Sumpah Pocong di Sekolah. Awalnya gue bingung, film ini film setan atau film cabul. Adegan pertamanya aja udah menceritakan tiga cowo bugil masuk ke dalam sekolah malam-malam untuk cari setan. Ramon (Marcell Darwin, pemeran utama dalam film ini) dan dua temannya (Evan (Fandy Christian) dan Dimas (Hardi Fadhillah)) ceritanya lagi ngerjain tiga anak baru itu di sekolah mereka, sekolah berasrama khusus pria. Sungguh bukan merupakan pemandangan yang menyenangkan, melihat tiga cowo gendut telanjang ketakutan. Hhhh,,, Adegan-adegan berikutnya lebih parah, Ramon dikisahkan mendapat hadiah ulang tahun berupa tarian striptease nan cabul di dalam ruangan kelas. Wah.
Ulah menyewa penari striptease ini ketahuan Bapak Asrama. Ramon, Evan, dan Dimas bersumpah palsu bahwa mereka tidak terlibat dalam skandal itu agar tidak dikeluarkan dari sekolah. Pada saat sumpah pocong baru setengah dijalankan, Kepala Sekolah menghentikan upacara itu karena ‘tidak sesuai dengan nama besar sekolah kita’.
Cerita selanjutnya mudah ditebak, ada setan penasaran yang merasa terganggu dan terhina oleh perbuatan sumpah pocong itu. Setan itu mulai menghantui sekolahan. Ramon yang paling terganggu oleh ulah sang setan yang hobinya ngagetin orang sebioskop (biasa lah, film setan Indonesia membangun aura seramnya dari kemunculan makhluk halus yang tiba-tiba, bukan dari konstruksi cerita secara keseluruhan). Ramon terus saja menggambar sesosok cewe berambut panjang. Di sini, ada seorang tokoh yang bernama Bu Sonya. Bu Sonya terlihat lebih getol mengetahui asal muasal si setan daripada Ramon sendiri. Berbekal Buku Kenangan Sekolah tahun 1990 dan gambar-gambar Ramon, Bu Sonya berhasil mengetahui bahwa si setan adalah Bunga, bekas pacar ayahnya Ramon yang mati kehabisan darah setelah menggugurkan bayinya. Ayah Ramon takut ketahuan polisi, dia mengubur mayat Bunga di balik papan tulis di sebuah kelas yang sedang dibangun waktu itu.
Begitu Bu Sonya mengetahui perihal si setan, Bu Sonya segera memberitahu Ramon. Tapi terlambat, si setan sudah mengejar-ngejar ayahnya Ramon berkeliling sekolahan. Akhirnya, ayahnya Ramon terbanting bersama si setan dari ketinggian. Apa yang gue perkirakan? Ayahnya Ramon mestinya mati dong, ya kan? Ga logis banget ada orang jatoh dari ketinggian empat lantai lebih dan gak mati. Kenyataannya, film berakhir dengan adegan ayahnya Ramon duduk di atas kursi roda, didorong oleh si setan. Selesai.
Sebenarnya cukup memuaskan. Yah, paling engga gue gak ngerasa rugi nonton film ini. Gak kayak pas gue nonton Di Sini Ada Setan The Movie yang anj*ng banget garingnya. Tapi ada banyak hal yang gue pikir dipaksain sutradara. Misalnya, adegan tiga cowo bugil ditantang masuk ke sekolah malam-malam sebenarnya gak penting. Beneran. Tanpa adegan itu pun cerita tetap berdiri. Menurut gue si sutradara ingin menunjukkan keberanian dia memasang adegan hampir full frontal nude di Indonesia. Bu Sonya juga aneh. Mengapa bukan Ramon yang diceritakan berhasil menemukan sejarah si setan? Peran Bu Sonya dalam film ini menurut gue mencuri peran yang seharusnya dimainkan Ramon. Lebih lanjut lagi, si setannya juga aneh. Kenapa dia mesti gangguin anak satu sekolah? Secara dia punya dendam hanya ke ayahnya Ramon… Dan menurut gue adegan terakhirnya gak kena. Kayaknya maksudnya mau bikin kita ber-’oooh’ dan ‘aaaah’ seperti yang gue alami pas nonton Shutter. Adegan terakhir Shutter tuh terlihat Ben duduk di tepi tempat tidur di rumah sakit, punggungnya membungkuk. Saat pintu tertutup, terlihatlah bahwa Megumi si setan sedang duduk ngangkang di tengkuknya Ben. Nah, adegan ini kan ‘kena’, adegan ini melambangkan ketidakrelaan Megumi untuk berpisah dari Ben. Tapi adegan terakhir Sumpah Pocong di Sekolah gak menggambarkan apa pun. Cuman terlihat ayahnya Ramon duduk lesu di atas kursi roda yang didorong oleh Bunga si setan. Perlambang apakah ini? Perlambang cinta? Lah, Bunga kan dendam sama ayahnya Ramon…
Akhir dari spoiler film Sumpah Pocong di Sekolah.
Kesimpulan: lumayan. Plot ceritanya mestinya bisa dibuat lebih baik lagi. Kalau lu mau nonton film setan yang penuh adegan mengagetkan, film ini bisa dijadikan pertimbangan. Begitu juga kalau lu tertarik nonton cowo-cowo gendut hampir telanjang bulat lagi ketakutan, film ini juga layak ditonton.
June 26th, 2008 pada 9:20 am
Salam kenal dari kami, Maxima Entertainment
Saya ingin menginformasikan kpada Bapak/Ibu mengenai film terbaru kami yang release tanggal 26 Juni 2008.
Info mengenai film kami dapat dilihat di http://www.maximapictures.com
Regards,
Adi
Maxima