Arsip untuk Kategori ‘wisata’
Ayo ke Jogja!
Ditulis oleh halexblue pada 24 June, 2008 – 3:43 am -Karena saudara gue ada yang kawinan dan gue mesti registrasi di Universitas Gadjah Mada, gue berangkat ke Yogyakarta dari Bogor naik Argo Dwipangga (bahasa Jawa Kuno, artinya Gunung Dua Gajah) pada Jumat, 20 Juni. Kakak dan ibu gue duduk sebelahan sementara gue duduk di sebelah orang lain. Dari pembicaraan-pembicaraan orang lain itu (marilah kita sebut saja, Mr X), gue menyimpulkan kalau Mr X itu kuliah di UGM dan sekarang sedang persiapan KKN. Mr X ngomong pake bahasa Jawa ngoko, jadi gue pikir dia orang Jawa. Tadinya gue mau ngajak ngoborol Mr X, tapi gue langsung ilfil setelah melihat bahasa tubuh dia selama dia ngobrol di telepon. Mirip si Rashit. Mi? Lu gak baca artikel ini kan? Heheee, kalo baca, maaf ya…
Sepanjang perjalanan, gue terpesona dengan indahnya pemandangan yang dilalui selama kurang lebih 9 jam (molor, mestinya 7 jam karena tertahan di Stasiun Cirebon). Mulai memasuki Jawa Tengah, sawah-sawah perlahan digantikan oleh ladang-ladang tebu, bawang merah, tembakau, hutan jati, cabe, dll. Wah, kesannya damai banget, deh. Gue jadi berhasrat bersepeda di sepanjang jalan pedesaan di Jawa Tengah.
“Quo Vadis”, Passer Baroe?
Ditulis oleh halexblue pada 8 June, 2008 – 6:48 pm -Hari Sabtu, abis nganterin Bindi, Vina, dan Anti ikut UMB di Universitas Indonesia, gue pergi bareng nyokap dan bokap e Passer Baroe di Jakarta buat beli sepatu formal. Gue kan gak punya sepatu formal… Gak lucu amat gue atasannya jas bawahannya sepatu converse. Ya gak sih? Hehehe,,,
Nah, sesampainya gue di Passer Baroe, gue sadar kalau pasar yang sudah berdiri sejak 1821 ini mengalami banyak perubahan drastis yang mungkin lebih tepat dikatakan penurunan (coba liat blognya Ewoy tentang Passer Baroe tahun 2007). Dulu, zamannya Sutiyoso, Passer Baroe adalah daerah pedestrian, daerah yang diperuntukkan untuk para pejalan kaki. Tapi sejak Januari 2008, ketua pasar yang baru (entah siapa gue gak tau) membuka Passer Baroe untuk umum, gak hanya buat pejalan kaki. Bayangkan; jalur pedestrian yang begitu nyaman dan mirip dengan Champs Elysees (hehehe, lebay sih) dihancurkan! Sekarang Passer Baroe jadi ribut, berdebu, riweuh.
Gue gak ngerti mau mereka apa. Kenapa mesti dibuka jalur pedestriannya? Kata hansip di sana sih soalnya waktu masih khusus pejalan kaki Passer Baroe sepi. Masa? Justru menurut gue sejak Passer Baroe bebas untuk kendaraan umum makin banyak yang gak mau datang ke sana karena kita belanja gak tenang, ditingkahi bunyi sepeda motor dan mobil yang meraung-raung.
Dulu, waktu gue masih SMP, gue seneng ke Passer Baroe karena gue ngerasa lain aja di sini, berasa di luar negeri. Suara para barker (sebutan untuk para penjual yang berteriak-teriak menawarkan mereka di luar toko) gak bisa disaingi oleh apa pun. Sekarang, barker Passer Baroe udah memutuskan untuk menggunakan sedikit teknologi; mereka pake pelantam suara (speaker) untuk mengalahkan suara sepeda motor dan mobil. Suara mereka jadi persis dengan saat Ramayana mengadakan diskon besar-besaran. Terkesan gak punya budaya.
Ya Bu, ke sini aja! Pakaian dalam murah-murah dan berkualitas bagus! Jas kami impor dari Itali. Ayo, ayo!!
Padahal kesan ‘kampungan’ ini gak ada waktu mereka masih belum menggunakan pelantam.
Lebih lanjut lagi, Passer Baroe gak punya kursi taman untuk duduk. Kesel gue. Kemaren gue sampai berantem ma salah satu hansip. Ceritanya gue duduk di sebelah pohon palem. Seorang hansip datang,
Hansip: “Mas, gak boleh duduk di sini”
Gue: “Loh, terus saya duduk di mana dong”
Hansip: “Terserah Mas, tapi jangan di sini. Ini kan bukan tempat duduk. Di mana kek duduknya, jangan ngerusak tanaman dong!”
Gue: “Loh, gak bisa gitu dong, Pak. Bapak gak mau saya duduk di sini tapi Bapak gak ngasih solusi di mana saya harus duduk. Kasih bangku taman dong. Saya duduk di sini karena gak ada tempat duduk yang disediain. Jadi salah saya gitu kalau saya cape terus gak nemuin tempat duduk?”
Hansip: “Ya gak tau Mas, pokonya jangan duduk di sini! Awas lu!”
Seandainya gue orang Jakarta, gue bakal kecewa berat ma Fauzi Bowo yang gak bisa mempertahankan satu-satunya pedestrian asri di Jakarta.
Gue harap Bogor, Solo, dan Yogya gak kayak gitu.

