Arsip untuk Kategori ‘pemikiran’
Apakah Gue Gila Hormat?
Ditulis oleh halexblue pada 13 June, 2008 – 2:42 am -Apakah gue gila hormat? Pertanyaan ini terus menalu benak gue dua hari yang lalu. Kejadiannya dimulai saat gue beli pulsa. Gue masuk ke dalam toko dan duduk, menunggu dilayani. Kebetulan masih banyak pelanggan lain yang juga sedang membeli pulsa. Beberapa saat setelah gue duduk, masuk segerombol keluarga ke dalam toko dan duduk di sebelah gue. Tak lama, dua orang pengunjung selesai dilayani. Dua orang pramuniaga yang tadi melayani dua pengunjung itu sekarang bebas. Gue pikir mestinya gue yang dilayani dong, sekarang. Ya gak sih? Ternyata engga. Salah seorang pramuniaga bergegas melayani keluarga yang duduk di sebelah gue yang padahal datang sesudah gue. Seorang lagi duduk di pinggir, merokok.
Gue tunggu beberapa saat, akhirnya gue panggil, “Mas, mau beli pulsa.”
Mas-masnya berdiri dan mengambil buku catatan dan melemparkan buku itu di atas meja layan sambil terus merokok dan berkata, “Isi nomor hape lu di situ.”
Anj*ng. Gue gak terima digituin. Gue berkata dengan dingin, “Anda tidak perlu bersikap seperti itu. Kalau Anda tidak mau melayani saya, ya gak usah. Saya gak jadi beli. Makasih.”
Gue kesel sama pramuniaga yang gak sopan kayak dia. Apakah ini menunjukkan kalau gue gila hormat? Atau apakah sikap gue normal? Gue gak suka pramuniaga yang melayani sambil malas-malasan. Gue gak suka pramuniaga yang mukanya datar dan ketus. Apa susahnya sih senyum? Temen-temen gue bilang gue harus mengerti keadaan pramuniaga itu. “Lu juga pasti cape, qi kalo disuruh senyum terus dari pagi.”
Loh, menurut gue argumen seperti itu gak punya dasar. Kalau Anda gak mampu senyum ke setiap pelanggan Anda, ya jangan jadi pramuniaga dong. Itu yang dinamakan risiko kerja.
Andaikata gue disambut dengan senyum, pasti gue senang belanja di situ, kan? Restoran A&W, misalnya. Pramuniaga mereka dilatih untuk menyambut pelanggan yang datang. Bahkan mereka mengucapkan selamat jalan pada pelanggan yang sudah selesai makan. Itu yang dinamakan taktik berwirausaha. Taktik meraih pelanggan sebanyak-banyaknya dengan memberikan layanan yang terbaik. Sekarang, apakah gue gila hormat?
Ada Kekosongan dalam Benak Gue.
Ditulis oleh halexblue pada 13 June, 2008 – 2:40 am -
Ah! Gue benci perasaan ini. Sumpah, gue benci banget mengenang masa lalu yang bikin kita gak bisa menatap masa depan.
Dari tadi, gue hanya duduk di depan komputer, tangan di atas papan ketik. Mata menatap layar. Sungguh, ada banyak pikiran di dalam otak. Tapi gak ada satu pun yang bisa gue alirkan ke luar dalam bentuk rangkaian kata.
Gue Gak Keterima UNDIP
Ditulis oleh halexblue pada 22 May, 2008 – 2:05 pm -Penyesalan penyesalan penyesalan penyesalan penyesalan penyesalan penyesalan penyesalan penyesalan. Apa gue kurang belajar? Apa gue kurang berdoa? Apa lawan-lawan gue pada pinter semua? Apa gue terlalu meremehkan UM UNDIP?
Begitu gue tau gue gak keterima UNDIP, gue langsung kirim SMS ke beberapa temen dengan harapan dapet kata-kata penghiburan dan penyemangat.
I don’t know why, but somehow their SMSs just made me feel even worse. Nyokap tanya, “De, mau coba UII gak? De, masih ada universitas swasta yang buka pendaftaran ga?”
Gue sedih dengernya, as if all hopes have gone.
Tuhan… Gue harus semangat belajar buat UMB UI!! Ayo! Uki, Bisa!
Berdoa supaya keterima UGM! Berusaha supaya keterima UI!
*pengen nangis….merasa bersalah ke nyokap*
Indonesia, Bisa!
Ditulis oleh halexblue pada 22 May, 2008 – 2:02 pm -Slogan Indonesia, Bisa! dideklarasikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di acara pagelaran 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
I was overwhelmed when I watched the opening of the colossal event. Kolosal adalah kata yang tepat. Seratus ribu penonton dengan tiga puluh ribu pendukung acara. Luar biasa. Menurut gue, acara ini penting untuk membangunkan masyarakat Indonesia yang selama ini tertidur, untuk menggelorakan kembali semangat persatuan dan kesatuan.
Acara dipenuhi dengan hal-hal yang serbabesar untuk menumbuhkan kebanggaan nasional seperti paduan suara 1000 mahasiswa Universitas Indonesia, tari-tarian tradisional, atraksi TNI dan Polri, serta siswa-siswa berprestasi. Yel-yel semangat kebangsaan diteriakkan — dan divisualisasikan oleh formasi 2000 anggota TNI di bangku stadion — berulang kali membuat hati gue tergetar.
Sayangnya, beberapa orang mencela dan mencemooh acara ini. Mereka menganggap acara ini hanya membuang-buang uang dan gak ada gunanya. Pikiran mereka menurut gue sempit. Semangat nasionalisme dan persatuan dapat dibangun dengan menunjukkan kebesaran Indonesia. Dalam acara Pagelaran Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini siapa sih yang gak mendapat luapan rasa bangga, haru, dan patriot saat melihat kesemaptaan serta kesigapan TNI dan Polri, dan keragaman budaya masyarakat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Sangir-Talaud sampai Rote-Ndau?
Alumnus smansa, Shanti, menulis,
Kenapa gw ga sampai hati nontonnya?
Karena yang gw liat adalah kesia-siaan.
Kenapa sih semua orang bersikap sinis? Momentum 100 tahun kebangkitan nasional ini penting untuk menumbuhkan kembali rasa persatuan dan kesatuan kita. Berhenti dong cari-cari kesalahan pemerintah. Berhenti dong bersikap apatis, sinis, dan skeptis. Yang dibutuhkan negara sekarang adalah dukungan, bukan cemoohan dan hinaan. Kesel gue.
Apa kata orang seandainya perayaan ini gak ada? Paling bakalan bilang Indonesia gak punya rasa hormat pada pahlawan sendiri yang telah memperjuangkan kebangkitan nasional. Iya engga sih?
Indonesia, Bisa!
Ngurus SKTMUN Bikin Emosi Jiwa!!
Ditulis oleh halexblue pada 21 May, 2008 – 2:15 pm -Gue tadi baru dari smansa, ngurusin pendaftaran UMB UI. Tadinya anak-anak pada maksa-maksa gue gak daftar kolektif lewat sekolah. Pada mau boikot karena BK minta biaya kolektif Rp50.000 persiswa. Emang sih, duit segitu keterlaluan banyaknya. Tapi daripada cape-cape ke Jakarta, ngurus sendirian, mending lewat sekolah, kan. Tinggal masukin data, taro di BK, tinggal tau jadi…
Salah satu persyaratan UMB UI adalah Surat Keterangan Telah Mengikuti Ujian Nasional. Hmm, apa yah namanya… SKTMUN? Huehuhe,,,
. Nah, gue sepagian ngurusin pembuatan SKTMUN ini di tatausaha. Mulai masukin data jam 09:30, selesai jam 11:00. Hanya selembar surat keterangan! Well, emang sih yang buat SKTMUN banyak, tapi seandainya TU pake sedikit aja kemajuan teknologi, proses ini bisa dipangkas jadi tinggal beberapa menit aja loh. Gak heran staf TU jadi pada repot dan cepet tua *peace yah Mba Ninda,,, hehe…*, lha setiap akhir tahun ajaran selalu digerecokin kelas XII…
Bisa lu bayangin kekonyolan sistem kuno yang dipake TU. Mereka nyuruh anak yang mau bikin SKTMUN nulis data diri (e.g. alamat, kelas, program studi, dan nama) di secarik kertas kosong dan ditumpuk di tumpukan to-do-nya TU untuk kemudian diketik. Sumpah, gak efektif abis! Secara TU punya database siswa di komputer, kenapa gak dimanfaatin sih? Gak heran banyak anak yang protes alamat atau namanya salah ketik. Malah ada anak yang kelasnya XII IPA 76, padahal dia XII IPA 3. Jauh banget kan?
Gini deh, TU pasti punya database siswa di komputer kan? * jangan-jangan database pun diketik dalam Ms Word… aaaggg,,,,,*, nah, apa susahnya coba minta Pahay bikinin program Visual Basic atau minimal macro di Ms Word deh. Jadi kalau ada anak minta bikinin surat keterangan, TU tinggal tanya mau surat keterangan apa, SKHUN, SKKB, SKTMUN ma nomor induk. Nah, selanjutnya gampang, TU tinggal masukin nomor induk ke dalam program dan program bakal ngambil data-data yang diperluin ke dalam field yang udah diketikin ma TU sebelumnya. Hasilnya? Surat-surat keterangan yang selesai dalam hitungan menit, seragam, gak ada data yang salah ketik, dan gak ada kekonyolan TU minta anak-anak nulisin data-data yang sebenarnya udah TU punya.
Tadi sih caranya TU bikinin segitu banyak SKTMUN tu pake Ms. Word (seperti biasa… *rolling eyes*). Mereka ngetik data yang kita tulis di kertas, terus di-print. Abis dicetak, datanya kemudian diapus dan diganti ma data anak berikutnya. Jadi kalo ada anak yang namanya salah ketik, TU harus ngetik ulang data-data anak itu. ck ck ck… Jadi inget, waktu gue mau ikut beasiswa Singapura, gue disuruh masukin rapot dalam bahasa Inggris. TU mengetik ulang semua data dalam rapot gue ke dalam rapot versi bahasa Inggris! Astaga, kenapa nilai-nilai rapot seluruh siswa gak didokumentasiin dalam suatu database yang tinggal dipanggil kalo suatu waktu diperlukan kaya gini? Waktu itu setengah mati gue nyocokin nama orangtua di setiap lembar, nilai-nilai…
Hhh… kalo aja gue belajar bahasa Visual Basic atau bisa macro, gue bikinin deuh buat TU. Gratis, kalo perlu! Kesel banget gue tadi pagi, nungguin dua jam buat bikin selembar SKTMUN. Emosi!
Semangat ya TU! Berjuang! *sinis, he….*
Suatu Sore di KFC
Ditulis oleh halexblue pada 19 May, 2008 – 4:44 am -
Hari ini gue ke KFC di Ekalokasari Plaza sekitar jam 18:00. Seisi restoran rame parah, kebetulan ada anak lagi ngerayain ulang tahun di sana. Namanya kalo gak salah Sartika. Yang ngasih selamat ulang tahun ke Sartika dikasih paket Chaki anak-anak gratis. Beuh, brenyit-brenyit seumuran 5 tahunan itu ribut banget! Kesel liatnya. Mood gue gak tambah baik saat badut Chaki yang ayam leghorn warna putih tea (gede loh) muncul dari kamar mandi dan nyanyi ‘Selamat Ulang Tahun’ sambil berjalan sempoyongan ala badut ke Sartika. Hehe, si Sartikanya malah nangis, takut liat si Chaki yang jalannya udah kaya ayam kena flu burung…
Jujur, gue juga takut badut loh. Entah di mana lucunya gue ga tau. Masih mending ini badut ayam, gue paling serem sama badut manusia yang idungnya kaya balon warna merah, mulutnya dilipstikin menyala dan cemong, wajahnya putih topeng, Hiiih…. getek!
Sebelum makan, anak-anak disuruh main dulu di area bermain yang ada di dalem restoran. Gue jadi terkenang masa kecil, waktu gue kecil dulu gue sama sekali gak boleh main kayak gituan. Kenapa, gue gak tahu…
Di sebelah tempat bermain itu ada papan peraturan arena bermain. Gue tertarik baca itu soalnya ada banyak kesalahan ejaan di sana. Eh beneran loh! Kalo lu udah kelas XII kaya gue yang tinggal *tinggal q? TINGGAL??* belajar buat UM, USM, UTUL, SNMPTN, dan UMB, lu bakal cepet ngeh kalo ada tulisan yang gak sesuai EyD. Hehehe, sindrom ujian…
Aturan Permainan:
5. Harap diawasi anak-anak saat bermain.
Sejenak gue agak bingung, gak ngeh. Asa-asa ada yang salah gitu… Mikir, mikir, mikir… Akhirnya gue sadar dan tau apa yang bikin kalimat di papan peringatan itu rancu dan kalau muncul di SNMPTN langsung salah. Kalimat di papan peringatan itu namanya kalimat imperatif, kalimat yang memberi perintah atau imbauan. Kalau dilihat dari maksudnya sih jelas, peringatan itu menyuruh orangtua mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain. Tapi dari segi tatabahasa, kalimat itu jadi bermakna kebalikannya. Seakan-akan KFC ingin anak-anak mengawasi orangtua mereka yang sedang bermain. Iya gak sih?
Di hampir setiap butir peringatan di arena bermain KFC itu terdapat salah ejaan yang umum dilakukan orang-orang Indonesia seperti ‘dibawah’, ‘kedalam’, dan ‘diluar’.
Bahasa menunjukkan bangsa. Bangsa yang gak bisa mempergunakan dan menghargai bahasanya sendiri bukan bangsa yang besar. Di Inggris, orang dapat melihat tingkat pendidikan orang lain dari cara mereka berbahasa. Contoh yang sudah umum, biasanya orang yang kurang berpendidikan di Inggris sana tidak dapat mengucapkan huruf ‘h’ pada awal kata. Gitu,, kalo di Indonesia sebenernya juga bisa kita bedakan orang yang berpendidikan dan enggak dari cara mereka berbahasa di forum-forum formal. Tapi kayaknya bagi kita masih bukan big deal yah…
Hukum Gak Yah…?
Ditulis oleh halexblue pada 16 May, 2008 – 2:47 am -Gue baru sadar, ada banyak hal yang belum gue ketahui mengenai dunia perkuliahan. Baru kemarin malam gue chatting ma anak Magister Hukum Bisnis UGM.Dari pembicaraan kita, ada banyak hal yang berbeda dengan apa yang gue harapkan.
Menurut om gue, Hukum UGM adalah yang terbaik. Tapi menurut Mas Dimas, lulusan Hukum UI lebih diminati di Jakarta sana. Hmm, gapapa sih soalnya gue emang gak mau jadi pengacara, kan ada ‘kutukan eyang’. Lebih lanjut lagi, Mas Dimas ngasih tau bahwa mata kuliah Bahasa Belanda yang sangat gue tunggu-tunggu ternyata cuman 1 SKS dan ‘gak penting banget, ujian boleh buka kamus’. Wah. Tambah keheul lagi waktu Mas Dimas konfirmasi bahwa di UGM gak ada Hukum Publik Internasional dan gak ada mata kuliah Bahasa Perancis.
Ya, gue tau. Masa hanya karena mata kuliah yang gue pengenin gak ada atau gak sesuai ekspektasi gue gue mundur dari Hukum. Emang gak boleh gitu. Tapi mata kuliah Bahasa Belanda tuh motivator gue masuk Hukum…
Tambah pusing lagi waktu gue sadari bahwa pemilihan konsentrasi tuh gak sesuai bayangan gue. Gue udah menetapkan hati gak mau masuk Hukum Perdata, maunya masuk Hukum Internasional. Tapi Mas Dimas mengakui kalau Hukum Internasional UI lebih kedengeran dan bahkan bilang kalau Hukum Perdata UGM masih numero uno di Indonesia.
nah kalo mau jadi notaris konsentrasinya waktu s1 ambil hukum perdata. Daku s1nya juga hukum perdata dan hukum perdata masi no 1 di indonesia. maksudnya hukum perdata ugm
Menurut Mas Dimas, kalau mau jadi konsultan kudu pilih dulu, mau jadi konsultan apa.
“kalo haki, pasar modal ya s1nya ambil hukum bisnis, eh hukum dagang.”
Tapi walau bagaimanapun gue gak bisa dipaksa suka sama UI. Gue suka UGM, cinta Yogya, sayang Jawa. Hehe, gue tau alasan gue gak mau masuk UI dan lebih milih UGM terdengar absurd atau malah kekanak-kanakan, tapi gue pikir kalau suasana hati senang, tentu hasil kuliah akan optimal.
Masih ada kurang lebih tiga minggu sebelum pengumuman UTUL UGM. Gue butuh konsultasi dulu deh sama om gue dan Mas Dimas lagi.
Hhh… ya Allah, berikanlah kemantapan hati masuk Hukum UGM dan jadikanlah Hukum UGM jalan hidup terbaikku,
-ayo masuk Hukum UGM!!-
Susahnya Nyebrang Jalan
Ditulis oleh halexblue pada 16 May, 2008 – 12:15 am -Baru aja kejadian kemarin, gue nyebrang di zebra cross deket Zebaoth. Seperti biasa, Jalan Ir. H. Juanda padat dan rame. Apalagi di sekitar smansa, spensa, ma Zebaoth karena angkot-angkot memperlambat laju mobil mereka atau bahkan ngetem untuk ngambil anak-anak smansa/spensa yang baru pulang sekolah.
Saat itu gue mau nyebrang ke arah Zebaoth. Dari arah BTM, mobil-mobil pribadi dan motor ngebut dan gak ngasih kesempatan buat para pejalan kaki untuk nyebrang. Lama-lama mangkel juga ni hati. Maksud gue, dulu waktu masih SD gue pernah baca di buku PKn (dulu PPKn) gue;
Zebra cross itu sebenarnya adalah perpanjangan trotoar yang dipinjamkan kepada para pengemudi kendaraan untuk dilewati.
Nah, berarti kalau menurut buku PKn itu, sebenarnya zebra cross itu hak kita, para pejalan kaki. Jadi, mestinya kalau ada pejalan kaki mau nyebrang, yang perlu permisi bukan si pejalan kaki dong. Ya gak sih? Tapi emang, kita sebagai pejalan kaki disarankan memberi tanda untuk pengemudi kendaraan demi keselamatan kita sendiri. Tapi ini udah keterlaluan. Lima menit gue mau nyebrang gak ada yang ngasih kesempatan. Arrrggh!
Gue pikir, f*ck off! I want to cross this bloody road now! Gue dengan penuh kenekatan nyebrang jalan dengan lambat, dan gak nengok ke arah datangnya arus kendaraan. Asumsi gue, kalau mereka tau si penyebrang jalan gak ngeliat ke arah datangnya kendaraan, pasti mereka mau melambatkan mobil mereka. Kenyataannya? Gak!
Ada mobil yang klaksonin gue dari jauh. Guenya bandel, masih gak mau ngeliat ke arah mobil itu. Malah, gue nengok ke arah sebaliknya. Hehehe…. Tapi tu mobil masih klaksonin terus dari jauh. Lama-lama gue takut juga dong, gue masih belum mau mati. Ya udah, gue nengok ke arah mobil-yang-bunyiin-klakson itu dan terkejut ngeliat kecepatan mobil dan kearoganan pengemudinya yang menolak memperlambat laju mobilnya. Mobilnya mewah loh. KIA Camry. Plat hitam. Sebel, gue malah berhenti jalan di tengah jalan dan balik badan ke arah mobil itu, menantang dia untuk terus ngebut. Huehuee,, terpaksa si pengemudinya memperlambat laju mobil di belakang marka jalan zebra cross dan gue baru berlenggang kangkung ke Zebaoth setelah sempat melempar pandangan dingin ke pengemudinya. Weiisss,, saya banget dah gue!
Kenapa ya banyak pengemudi kendaraan di Indonesia yang gak bisa menghargai penyeberang jalan? Apa mereka pikir kita, para pejalan kaki dan penyeberang jalan, adalah orang-orang miskin dan kere yang gak mampu beli kendaraan sehingga terpaksa jalan kaki? Apa karena mereka pikir kita miskin, kita gak punya hak buat nyeberang jalan? Kesel ah.
Dalam kasus gue itu, si pengemudi mobil udah tau ada orang yang lagi nyeberang. Bukannya memperlambat mobilnya, dia malah bunyiin klakson supaya gue nyeberang dengan cepat. Kurang ajar. Oke, gue tau perbuatan gue juga gak mencerminkan perilaku penyeberang jalan yang baik. Ya abis mau gimana lagi, mereka kudu diajarin kalau penyeberang jalan kayak gue gak bisa ditindas gitu aja. Hehe, jadi inget kejadian di Bandung;
Waktu gue masih kecil, sekitar 7 tahun, gue ma bokap lagi di Bandung. Waktu itu kami mau nyebrang jalan yang lumayan rame. Untungnya ada lampu lalulintas khusus penyeberang jalan. Bokap pencet tombol di tiang lampu dan menunggu sampai lampu untuk penyeberang jalan menyala hijau. Saat lampu sudah hijau, kami menyeberang jalan bersama orang-orang lain. Baru sampai di separator jalan, ada mobil ngebut dari arah selatan dengan kecepatan tinggi dan membunyikan klakson kaya orang gila. Maksudnya jelas: nyuruh kita menunggu di separator jalan sampai dia lewat. Bokap langsung merentangkan tangan, mencegah gue maju lebih jauh lagi. Saat mobil melewati kami, bokap dengan cueknya menggebuk badan mobil keras-keras. Saking kerasnya, penyeberang jalan yang udah di seberang jalan sampai menengok ke arah bokap dan gue. Huehuehue,,, kocak banget deh waktu itu. Malah kata bokap, kalau waktu itu dia pegang peniti, pasti dia bakal goresin peniti ke badan mobil dengan kejamnya. Hehe, contoh yang patut ditiru, bukan?
Seandainya setiap pengguna jalan saling menghargai hak, tentu kejadian-kejadian kayak gitu gak ada. Jacco, sahabat gue yang tinggal di Belanda, pernah mengekspresikan keheranannya akan hal ini ke gue. Dia bingung kenapa walaupun lampu lalulintas sudah hijau, orang-orang masih tetap memberi isyarat dan celingak-celinguk kiri-kanan. Yah, itu semua karena pengemudi kendaraan gak menghargai hak para penyeberang jalan. Kan enak kalau gue mau nyeberang, mobil-mobil berhenti duluan di belakang marka jalan. Jadi terlihat gitu, apa kata buku PKn SD gue terbukti; kalau zebra cross itu perpanjangan trotoar yang dengan demikian hak pejalan kaki mesti didahulukan.
Budaya Menertawakan Diri Sendiri?
Ditulis oleh halexblue pada 10 May, 2008 – 5:38 am -Terkadang gue suka sedih ngeliat sifat bangsa kita. Kok kayaknya enak banget gitu menertawakan diri sendiri atau mengejek orang lain. Kalo gue bilang mah pathetic. Menyedihkan. Tulisan ini gue buat abis nonton Republik Mimpi di TV One kemarin malam. Ko miris gitu yah, hati gue ngeliat bagaimana para mahasiswa (makhluk-makhluk intelektual yang mestinya punya cara yang lebih elegan dalam mengungkapkan pendapat mereka) dari berbagai universitas ternama Indonesia berhimpun di satu studio untuk siap-siap menertawakan para pemimpin bangsa dan negara sendiri… Sedih.
Gue inget, dulu gue pernah diskusi bareng bokap mengenai Pa Habibie. Waktu itu kita diskusi mengenai keadaan politik dan sosial masyarakat Indonesia pada era Habibie. Di tengah pembicaraan, ada satu perkataan bokap gue yang masih gue inget sampe sekarang,
Bangsa Indonesia itu punya budaya gak bisa liat perbedaan. Kalau mereka melihat ada orang yang melakukan perbuatan yang nyeleneh atau berbeda dari yang lain, pasti diledek dan ditekan agar kembali menjadi sama dengan masyarakat umum. Tapi, kalau perbuatan yang berbeda itu akhirnya membuahkan hasil, orang-orang akan berkata, “Kalau caranya seperti itu sih saya juga bisa… “
Indonesia hanya butuh beberapa orang ‘aneh’ seperti Pa Habibie agar bisa maju. Lihat perekonomian Amerika Serikat. Andaikata orang-orang ‘aneh’ seperti Bill Gates dan Larry Page & Sergey Brin gak ada, apakah perekonomian mereka akan sekuat sekarang? Sayangnya, di sini orang-orang ‘aneh’ dipandang sinis sementara di sana, orang-orang ‘aneh’ dipelihara dan dipuji karena berani tampil ‘beda’.
Sebenernya, kalau kita mau jujur, kita pasti pernah — walaupun hanya sekali atau dua kali — menertawakan nasib bangsa. Coba deh diinget-inget. Gue inget waktu itu guru gue pernah bilang di kelas, “Kalau orang luar negeri mah, mengolah makanan udah pake food processor, atau mixer. Kita di sini masih pake alu, lumpang, dan cobek.”
Seisi kelas langsung tertawa, padahal menurut gue gak ada yang lucu. Apa salahnya pake cobek, alu, dan lumpang? Gue inget waktu itu bokap pernah mengeluh ke nyokap sambalnya rasa daun. Ternyata nyokap waktu itu lagi malas ngulek, jadi sama nyokap cabenya dimasukkan ke blender. Kebudayaan kita berbeda dengan kebudayaan mereka. Dan kebudayaan itu gak ada yang bener, gak ada yang baik. Kenapa sih kita sulit banget menjadi diri sendiri? Bangga dong pake cobek, lumpang dan alu. Bangga dong punya pemimpin yang mengurusi rakyatnya.
Tugas pemerintah adalah memilih pilihan terbaik dari semua pilihan terburuk. Harus kita sadari betul bahwa pemimpin bukan bahan olok-olok.
Seperti sekarang, misalnya. Saat pemerintah dengan berat hati menaikkan harga BBM dan menginstruksikan rakyat agar hemat energi. Bukannya berpikir, “Oh iya ya, harga minyak dunia sedang meroket. Saya harus memahami pemerintah dengan menggiatkan hemat energi.”, kita malah menyalah-nyalahkan pemerintah dan berencana memboikot program penghematan energi. Bukankah Rasul sendiri yang berkata, “Patuhilah imammu.”?
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Sofjan Djalil, mengeluarkan pernyataan yang gue dukung sepenuhnya:
Sudah selayaknya lembaga kepresidenan harus dihargai karena hal tersebut bagian dari institusi kenegaraan. “Lurah saja harus dijaga kewibawaannya agar dia bisa mengajak warga desa bergotong royong. Pendeta harus dilindungi kewenangannya agar dia bisa menjadi teladan dan pemimpin umat yang baik, demikian juga dengan alim ulama harus dihormati agar dapat menjadi pemimpin yang didengar oleh umatnya,” ujar Sofjan.
Jika di Eropa seorang raja dan ratu begitu dihargai dan dihormati, kenapa kita di negeri Timur yang kental dengan tradisi dan budaya hormat-menghormati, tidak melakukan hal tersebut.
Kepemimpinan harus dihormati dan didukung oleh rakyatnya. “Demokrasi di Amerika sangat berbeda dengan di Inggris. Demokrasi di Inggris sangat berbeda dengan di Jepang dan demokrasi di Jepang sangat berbeda dengan di Malaysia atau Indonesia. Apa yang baik di Amerika dan Inggris, belum tentu baik juga buat masyarakat Indonesia. Jika seorang kepala sekolah dipermalukan di depan siswa-siswanya, bagaimana jadinya sekolah itu,” ujarnya.
Pemerintah butuh bantuan kita. Sokong dong kebijakan-kebijakannya. Jangan bisanya hanya mengkritik kebijakan pemerintah dan mau enaknya sendiri. Beberapa orang malah membandingkan dengan harga BBM zaman Soeharto. Jangan begitu dong. Waktu itu kita terlalu dimanja. Merasa negara kaya, kita murahkan BBM. Kalau dari dulu BBM sudah wajar harganya, tentu rakyat akan mencari bahan bakar alternatif. Liat Brazil yang dari 1975 sudah mengalakkan program konversi BBM ke etanol dari tebu. Sekarang, 20% kebutuhan energi Brazil dipenuhi oleh etanol.
Berhenti menertawakan pemimpin, berhenti menertawakan diri sendiri. Kita punya kelebihan sendiri yang berbeda dengan bangsa lain. Jangan seenaknya membuat perbandingan. Oke? Program Republik Mimpi sebenarnya bagus untuk pembelajaran demokrasi, tapi kadang-kadang menurut gue sudah menjurus ke arah sarkasme.
Kenapa Hukum?
Ditulis oleh halexblue pada 8 May, 2008 – 12:58 pm -Banyak teman gue yang mempertanyakan pilihan gue.
UTUL UGM: Hukum, Hubungan Internasional, Ilmu Pemerintahan
UM UNDIP: Hukum, Ilmu Pemerintahan
SMB UI (rencana): Hukum, Kriminologi
SMBB Telkom (STMB, rencana): Manajemen Bisnis dan Informatika
SM-PTN (rencana): Hukum UGM, Hukum UInote: Gue pilih HI sebagai pilihan kedua di UGM soalnya gue gak tau lagi mau pilih apa dan waktu itu pikiran gue, “Kalo HI gue taro di pilihan pertama dan taunya keterima, kan gue maunya masuk Hukum… Kalo HI ditaro di pilihan ketiga, sadis amat… Ya udah deh, Pemerintahan aja yang ketiga..”
Huehuehe,,, bodoh amat ya gue? Sedangkan di SMBB Telkom gak ada Hukum.
Oke, balik ke topik; Kenapa Hukum?
Jujur, sampai kelas XI pilihan program studi di universitas gue masih berkisar Teknik Perminyakan, Teknik Kimia, Sastra Jepang, Teknik Nuklir, Geografi. Tapi entah mengapa di akhir kelas XI mulai muncul pilihan-pilihan kayak Ilmu Komunikasi, Teknik Informatika, Hukum, Ilmu Pemerintahan, Kriminologi, Administrasi Niaga, Administrasi Negara, ma Bisnis di otak gue. Gue juga bingung loh. Ko bisa bener-bener gak ada IPA-nya sama sekali,,,
Gue itu suka keteraturan dan bahasa dan Hukum menyediakan semuanya. Matematika berbahasa lewat angka dan bilangan sedangkan Hukum berbahasa manusia. Dalam berbahasa, kita harus logis dan jelas, tidak menimbulkan ambiguitas. Semua itu dibutuhkan hamba Hukum. Bayangkan kalau KUHP ditulis dalam bahasa slengean. Tidak akan ada keteraturan, yang timbul hanyalah kebingungan. Kedua, Hukum berhubungan erat dengan Sejarah dan gue suka Sejarah. Ketiga, anak-anak Hukum dapat pelajaran Bahasa Belanda. Gue suka belajar bahasa-bahasa Eropa. Keempat, kalau gue pilih penajaman konsentrasi Hukum Publik Internasional, gue dapet mata kuliah Bahasa Perancis. Itu latar belakang gue pilih Hukum walaupun sempat ditentang keluarga;
Kenapa mesti Hukum? Eyang waktu itu pernah dipenjara karena seorang jaksa. Eyang bilang anak cucunya gak ada yang boleh jadi jaksa/pengacara/hakim. Sudah, pilih Pemerintahan/Politik aja…
Setelah berargumentasi dan meyakinkan mereka kalau pilihan karier anak Hukum gak cuman jadi jaksa/pengacara/hakim, akhirnya keputusan gue dihargai dan direstui.
Makin lama, keputusan gue makin bulat. Gue harus masuk Hukum UGM.
Gue sempet khawatir melihat teman-teman gue satu persatu masuk Teknik Elektro (Jujud), Teknik Pertambangan dan Perminyakan (Gumi), Teknik Industri (Titie), Kedokteran Hewan (Sese), Kedokteran Umum (Ratna), dan lain-lain. Gue takut hanya karena gue gak berani masuk IPA, nanti pas gue udah dewasa gue hanya ngurusin orang cerai atau sengketa tanah kecil-kecilan sementara teman-teman gue yang berani pilih IPA jadi sukses dan tajir. Cukup lama juga kekhawatiran ini bersemayam di hati gue, tapi akhirnya gue berpikir, setiap orang udah punya jalan masing-masing. Pasti jalan gue berbeda dengan anak-anak lain. Siapa tahu kan gue bisa lebih berhasil di Hukum? Yang penting sekarang adalah doa dan usaha…
Anak Hukum gak harus jadi jaksa, pengacara, hakim, notaris, atau ngurusin perceraian artis. Anak Hukum bisa melebarkan sayap ke Bisnis, Pemerintahan, dan lain-lain. Justru dengan dasar Hukum, kita dengan mudah dapat belajar Bisnis, Ekonomi, Hubungan Internasional, Akuntansi, dan Pemerintahan.
Gue udah gak sabar masuk Hukum UGM. Bahkan sekarang gue udah mulai ngegambarin Dewi Keadilan, Ivstitia (Justitia atau Justice). Hehe,,, doain gue keterima FH UGM yah…
Technorati Tags: hukum, smbb, telkom, ui, ugm, smptn, stmb
Powered by ScribeFire.

